Overblog Follow this blog
Edit post Administration Create my blog

Kisah Kisah Khulafaur Rasyidin
Kisah Kisah Khulafaur Rasyidin

Kisah Kisah Khulafaur Rasyidin

Khulafaur Rasyidin (bahasa Arab: الخلفاء الراشدون) atau Khalifah Ar-Rasyidin adalah empat orang khalifah (pemimpin) pertama agama Islam, yang dipercaya oleh umat Islam sebagai penerus kepemimpinan setelah Nabi Muhammad wafat. Empat orang tersebut adalah para sahabat dekat Muhammad yang tercatat paling dekat dan paling dikenal dalam membela ajaran yang dibawanya di saat masa kerasulan Muhammad. Keempat khalifah tersebut dipilih bukan berdasarkan keturunannya, melainkan berdasarkan konsensus bersama umat Islam

dan di bawah ini adalah Kisah Kisah Khulafaur Rasyidin


Kisah Umar Bin Khattab


Umar bin Khattab adalah orang dari suku Quraisy,ia terkenal sebagai orang yang berwatak keras dan bertubuh tegap. Sering kali pada awalnya (sebelum masuk Islam) kaum muslimin mendapatkan perlakukan kasar darinya. Sebenarnya di dalam hati Umar sering berkecamuk perasaan-perasaan yang berlawanan, antara pengagungannya terhadap ajaran nenek moyang, kesenangan terhadap hiburan dan mabuk-mabukan dengan kekagumannya terhadap ketabahan kaum muslimin serta bisikan hatinya bahwa boleh jadi apa yang dibawa oleh Islam itu lebih mulia dan lebih baik.
Pada suatu hari, orang-orang kafir Quraisy bermusyawarah untuk menentukan siapakah di antara mereka yang bersedia membunuh Rasulullah saw.. Umar r.a. segera menyahut, “Saya siap melakukannya!” Semua orang Quraisy yang hadir di pertemuan itu berkata, “Ya, memang engkaulah yang pantas melakukannya!”
Sampailah kemudian, beliau berjalan dengan pedang terhunus untuk segera menghabisi Rasulullah Sholallohu Alaihi Wassalam. Namun di tengah jalan, beliau bertemu dengan Abdullah an-Nahham al-‘Adawi seraya bertanya:
“Hendak kemana engkau ya Umar ?”,“Aku hendak membunuh Muhammad”, jawabnya.
“Apakah engkau akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhroh jika engkau membunuh Muhammad ?”,
“Jangan-jangan engkau sudah murtad dan meninggalkan agama asal-mu?”. Tanya Umar.
“Maukah engkau ku tunjukkan yang lebih mengagetkan dari itu wahai Umar, sesungguhnya saudara perempuanmu dan iparmu telah murtad dan telah meninggalkan agamamu”, kata Abdullah.
Setelah mendengar hal tersebut, Umar langsung menuju ke rumah adiknya. Saat itu di dalam rumah tersebut terdapat Khabbab bin Arats (seorang tukang besi dari kaum muhajjirin) yang yang sedang mengajarkan Al-Quran kepada Fathimah binti Khatthab dan suaminya Sa'id bin Zaid, Namun ketika Khabbab merasakan kedatangan Umar, dia segera bersembunyi di balik rumah. Sementara Fatimah, segera menutupi lembaran al-Quran.
Sebelum masuk rumah, rupanya Umar telah mendengar bacaan Khabbab, lalu dia bertanya :
“Suara apakah yang tadi saya dengar dari kalian?”,
“Tidak ada suara apa-apa kecuali obrolan kami berdua saja”, jawab mereka
“Pasti kalian telah murtad”, kata Umar dengan geram
“Wahai Umar, bagaimana pendapatmu jika kebenaran bukan berada pada agamamu ?”, jawab ipar Umar.
Mendengar jawaban tersebut, Umar langsung menendangnya dengan keras hingga jatuh dan berdarah. Fatimah segera memba-ngunkan suaminya yang berlumuran darah, namun Fatimah pun ditampar dengan keras hingga wajahnya berdarah, maka berkata-lah Fatimah kepada Umar dengan penuh amarah.

Kisah Kisah Khulafaur Rasyidin


Kisah Abu Bakar


Abu Bakar As Siddiq ayah dari Aisyah istri Nabi Muhammad SAW. Namanya yang sebenarnya adalah Abdul Ka'bah (artinya 'hamba Ka'bah'), yang kemudian diubah oleh Rasulullah Saw menjadi Abdullah (artinya 'hamba Allah'). Abu Bakar As Siddiq atau Abdullah bin Abi Quhafah (Usman) bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihr al-Quraisy at-Taimi. Bertemu nasabnya dengan Nabi saw kakeknya Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai, kakek yang keenam. Dan ibunya, Ummul-Khair, sebenarnya bernama Salma binti Sakhr bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim. Nabi Muhammad Saw juga memberinya gelar As Siddiq (artinya 'yang berkata benar'), sehingga ia lebih dikenal dengan nama Abu Bakar as-Siddiq.
An-Nawawi berkata: Abu Bakar As Siddiq termasuk tokoh Quraisy dimasa Jahiliyah, orang yang selalu dimintai nasehat dan pertimbangannya, sangat dicintai dikalangan mereka, sangat mengetahui kode etik dikalangan mereka. Tatkala, Islam datang Abu Bakar As Siddiq mengedepankan Islam atas yang lain, dan beliau masuk Islam dengan sempurna.
Zubair bin Bakkar bin Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ma’ruf bin Kharbudz dia berkata: Sesungguhnya Abu Bakar As Siddiq adalah salah satu dari 10 orang Quraisy yang kejayaannya dimasa Jahiliyah bersambung hingga zaman Islam. Abu Bakar As Siddiq mendapat tugas untuk melaksanakan diyat (tebusan atas darah kematian) dan penarikan hutang. Ini terjadi karena orang-orang Quraisy tidak memiliki raja dimana mereka bisa mengembalikan semua perkara itu kepada raja. Pada setiap kabilah dikalangan Quraisy saat itu, ada satu kekuasaan umum yang memiliki kepala suku dan kabilah sendiri.
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Al-Aliyyah Ar-rayahi, dia berkata: Dikatakan kepada Abu Bakar As Siddiq ditengah sekumpulan sahabat Rasulullah: Apakah kamu pernah meminum minuman keras di zaman Jahiliyah? Beliau berkata, ”Saya berlindung kepada Allah dari perbuatan itu!”
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Aisyah, bahwa Abu Bakar As Siddiq mewarnai rambutnya dengan 'daun pacar' dan katam (nama jenis tumbuhan). Dia juga meriwayatkan dari Anas, dia berkata, Rasulullah datang ke Madinah, dan tidak ada salah seorang dari para sahabatnya yang beruban kecuali Abu Bakar As Siddiq, maka dia menyemirnya dengan daun pacar dan katam.


Kisah Utsman Bin Affan


Alkisah, pada masa jahiliyyah Utsman r.a bahwa Rasulullah saw menikahkan putri beliau Ruqayyah dengan anak pamannya, Abu Lahab.
Sehingga Utsman sangat menyesal sekali karena ia tidak sempat mendahului anak Abu Lahab dan tidak bisa merasakan akhlak Ruqayyah yang terpuji dan kemuliaan nenek moyangnya.
Ia kemudian kembali pulang menemui keluarganya dalam keadaan sedih,  dan ternyata ia mendapati bibinya Su’da Binti Kariz r.a sedang bersama keluargannya, sedangkan Su’da adalah seorang wanita yang bijaksana, cerdas lagi msaih muda.
Kemudian Su’da menyingkap mendung yang menyelimuti wajah Utsman dan menyampaikan kabar gembira kepadanya, tentang munculnya seorang nabi yang akan menghancurkan peribadatan kepada berhala,  dan menyeru untuk beribadah hanya kepada Dzat  Yang Maha Esa lagi Ynag Maha Menghisab serta memberi pembalasan.
Ia juga memotivasi Utsman untuk masuk dalam agama Nabi tersebut serta menyampaikan kabar gembira kepadanya, bahwa ia akan mendapatkan apa yang ia harapkan dari Nabi tersebut.
Utsman r.a bercerita, “Kemudian aku pergi sedangkan aku masih memikirkan tentang perkataan bibiku. Akupun memutuskan untuk bertemu dengan Abu Bakar r.a, dan bercerita kepadanya  apa yang telah disampaikan bibiku  kepadaku.
Maka Abu Bakar r.a berkata, “Demi Allah, bibimu sungguh jujur dalam kebaikan yang ia samapaikan kepadamu wahai Utsman. Sedangkan adalah seorang laki – laki yang cerdas dan bijaksana. Bagi anda kebenaran tidak akan tersembunyi dan bercampur dengan kebatilan.”
Kemudian Abu Bakar r.a berkata kepadaku, “Apa hebatnya berhala – berhala yang diibadahi oleh kaum kita? Bukankah ia hanya sekedar batu yang tuli, tidak dapat mendengar dan melihat?Maka aku menjawab, “Benar.’’Abu Bakar r.a melanjutkan, “ Sesungguhnya apa yang telah disampaikan oleh bibimu wahai Utsman, benar – benar terjadi. Karena Allah Subhanahu wata’ala telah mengutus orang yang ditunggu – tunggu dan membangkitkannya kepada manusia seluruhnya dengan membawa agama  untuk petunjuk dan kebenaran.”Maka aku bertanya, “Siapakah dia?”Abu Bakar r.a menjawab, “ Sesungguhnya ia adalah Muhammad Bin Abdillah bin Abdil Muthalib.”
Aku bertanya lagi, “ Apakah dia  Ash-Shadiq Al-Amin (orang yang jujur lagi terpercaya) itu?”
Abu Bakar menjawab, “ Benar dialah orangnya.”
Lalu aku berkata, “ Maukah kamu mengantarkan aku kepadanya?”
Abu Bakar r.a menjawab, “ Ya.” Lalu kitapun pergi menjumpai Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam.Tatkala beliau Salallahu ‘Alaihi Wasallam melihatku, beliau Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “ Wahai Utsman,  penuhilah penyeru Allah ini, sesungguhnya aku adalah utusan Allah Subhanahu Wata’ala kepada kalian secara khusus dan kepada mahluk Allah secara umum.”Utsman melanjutkan, “  Maka demi Allah, setelah mataku melihat beliau Salallahu ‘Alaihi Wasallam  dan aku mendengar perkataannya,  maka akupun menjadi tentram dan membenarkan kerasulannya. Setelah itu akupun mengucapkan syahadat  Laillaha ilallah Wa anna Muhammadan ‘Abduhu Wa Rasuluhu.”


Kisah Ali bin Abi Thalib


Suatu hari setelah pulang dari rumah Rasulullah, Ali melihat Fatimah sedang berdiri di teras rumah.“Hai isteriku, apakah ada makanan hari ini untuk suamimu?” tanya Ali.“Demi Allah, aku tak memiliki apa-apa kecuali uang enam dirham, hasil upah memintal bulu-ulu domba milik Salman al-Farisi. Dan aku berencana ingin membelikan makanan untuk Hasan dan Husain.”
“Biar aku saja yang membelikannya. Berikan uangnya kepadaku!”
Fatimah pun memberikan uang tersebut.
Ali pun bergegas pergi membeli makanan untuk kedua anaknya. Di tengah jalan, ia ketemu dengan seorang laki-laki yang berkata, “Siapa yang mau meminjami Tuhan Yang Maha Pengasih dan Yang Selalu Menepati Janji.”
Ali pun memberikan uang enam dirham tersebut kepadanya. Kemudian pulang ke rumahnya dengan tangan kosong. Fatimah yang melihat Ali pulang dengan tangan hampa langsung menangis.
“Mengapa kamu menangis?”
“Kenapa kamu pulang tanpa membawa sesuatu? Ke mana uang yang enam dirham tadi?”
“Isteriku yang mulia, aku telah meminjamkannya kepada Allah.”
Mendengar jawaban Ali, Fatimah berhenti menangis dan gembira. “Sungguh! Aku mendukung tindakannmu!”
Lalu Ali pun keluar rumah karena ingin bertemu Rasulullah SAW. Di tengah jalan, ia disapa seorang laki-laki, “Hai Abu Hasan, maukah kau beli untaku?”
“Aku tak punya uang,” kata Ali
“Bayarnya belakangan saja.”
“Berapa?”
“Seratus dirham.”
“Baik. Kalau begitu aku beli.”
Setelah diberikan untanya kepada Ali, dan Ali pun ingin kembali pulang meletakkan untanya di sekitar ruamhnya. Di tengah perjalanan, ia disapa seorang laki-laki.
“Hai Abu Hasan, apakah unta tersebut akan kau jual?”
“Ya.”
“Berapa?”
“Tiga ratus dirham.”
“Ya, aku beli.”
Lalu orang tersebut membayarnya dengan kontan 300 dirham dan mengambil unta tersebut.
Ali pun bergegas pulang ke rumahnya. Fatima tersenyum melihat wajah Ali yang sumringah.
“Kelihatan begitu gembira, apa yang terjadi, suamiku?”
“Isteriku yang mulia, kubeli unta dengan bayar tempo seharga 100 dirham. Lalu kujual lagi 300 dirham dengan kontan.”
“Aku setuju.”
Setelah berdialog di rumahnya, Ali pamit kepada Fatimah mau menemui Rasulullah SAW di mesjid. Ketika masuk masjid, Nabi SAW tersenyum melihatnya.
“Hai Abu Hasan! Akan kau yang lebih dahulu cerita ataukah aku terlebih dahulu?”
“Anda saja yang cerita, ya Rasul,” jawab Ali.
“Tahukah kamu siapa yang menjual unta kepadamu dan siapa yang membelinya kembali?”
“Tidak. Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”
“Berbahagialah Ali. Kamu telah meminjamkan enam dirham kepada Allah. Dan Allah memberimu 300 dirham. Tiap satu dirham mendapat ganti 50 dirham. Yang pertama datang kepadamu adalah Jibril dan yang terakhir datang adalah Mikail.”
(Kitab al-Mawaaidz al-Ushfuuriyyah. Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad yang mendapat cerita dari ayahnya yang mendengar dari kakeknya mengenai perilakunya.

 

Tag(s) : #edukasi

Share this post

Repost 0